Turkish Hospitality di Ankara dan Cappadocia

Disclaimer : dengan mempertimbangkan banyak hal, maka budget tidak aing sertakan dalam tulisan aing. Budget traveling sangat dipengaruhi oleh harga tiket, banyaknya tempat yang dikunjungi, interest terhadap sesuatu (tempat seni, kuliner, pertunjukan, dsb) dan pilihan penginapan. So, untuk urusan budget aing kira sangat personal, ya…

Part 2

Ankara

Ankara_azhar_2019
Kota Ankara, dengan latar Pegunungan Taurus

Bagi yang belum baca Part 1, silakan baca dulu ya.. Biar ga ketinggalan, hoohoho..

Sejujurnya, aing tidak ada minat sama sekali untuk singgah di Ankara. Ankara adalah ibukota Turki, pusat pemerintahan. Sepanjang yang saya cari, Ankara adalah kota biasa, tidak ada seuatu yang unik disitu.Namun, hal itu berubah saat ternyata aing menemukan bahwa cara tercepat untuk ke Cappadocia adalah dengan naik pesawat sampai Ankara dilanjutkan naik bus ke Nevsehir. Ya sudah, kenapa ngga sekalian aja day trip di Ankara, ya kan?

Di Ankara, aing juga hang out dengan teman dari couchsurfing. Yang pertama, namanya Huseyin. Mahasiswa hukum tahun akhir yang lagi nunggu wisuda. Bersama Huseyin, aing jalan ke daerah Hamamonu, daerah yang sekarang didominasi pertokoan dan pasar ini, dulunya adalah pusat pemukiman warga Ankara zaman Utsmaniyah (Ottoman). Daerah yang cukup cantik, tidak terlalu banyak turis asing, dan cukup murah. Namun eng ing eng,,, baru jalan 30 menitan hujan turun dengan derasnya. Jadilah kita berteduh di sebuah kafe untuk menghindari hujan.

Kita diskusi panjang dan aing senang sekali karena Huseyin ini masih menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim. Yap, ditengah sekulerisme Turki, akhirnya aing ketemu juga salah seorang yang “sepandangan”, huhuhu…. Setelah hujan agak reda, kami berjalan mencari masjid terdekat.

Yang menyenangkan, Huseyin juga fasih berbahasa Inggris karena pernah jadi mahasiswa pertukaran Pelajar. Logatnya juga sudah “internasional” jadi lebih gampang dipahami. Untuk ukuran Orang Turki, aing bisa katakan bahasa inggrisnya sudah advanced, Ya pasti sudah pada tahu kan, kalo Logat Inggris Orang-orang Eropa Timur lumayan menguji pendengaran dan otak saking kental tercampur dengan logat bahasa ibu mereka…

Aing masih ada janji dengan teman yang lain. Ismail namanya. Dia berjanji untuk membawa aing jalan-jalan ke Anitkabir dan memperkenalkan tempat ini lebih detil. Dia ini adalah seorang Turkish Air Force dan sangat paham mengenai tempat tersebut. Sayang, Huseyin harus menghadiri rapat organisasi nya dan kami pun berpisah.

Azhar-Husetin_Ismail
Kiri-Kanan: Huseyin, Ismail, dan Aing berfoto sebelum berpisah
Aing dan Ismail kemudian lanjut ke Anitkabir. Ismail benar-benar menepati janjinya. Dengan English terbata-bata, dia berusaha memberikan informasi sedetil mungkin untuk tiap sudut Anitkabir. Yap, dia memang join Couchsurfing karena butuh teman untuk melatih kemampuan English-nya. So, bagi yang belum tahu, Anitkabir atau yang sering disebut Mauseloum Attaturk ini, adalah bangunan megah yang dipergunakan sebagai memorial hall Mustafa Kemal Pasha, atau yang biasa dipanggil Mustafa Attaturk (Bapak Turki). Masih ingat kan pelajaran sejarah? Turki melakukan pemberontakan terhadap Kekhalifahan Utsmaniyyah agar Khalifah meletakkan Jabatan untuk mengubah struktur pemerintahan Turki yang dianggap usang. Mustafa Kemal Pasha lah seorang pelopor gerakan tersebut dan kemudian dinobatkan sebagai Presiden Turki pertama. 

Attaturk Mauselom_azhar_2019
Tampak Depan Mauseloum Attaturk

Nah, tempat ini dikhususkan untuknya. Di bangunan maha luas ini, terdapat peninggalan-peninggalan semasa Beliau hidup. Seperti, baju, buku, kursi yang biasa dipakai, sepatu, kalimat-kalimat pepatah, dan tentu saja makamnya. Mauseloum ini juga dijaga ketat oleh Militer. Ada upacara pergantian penjaga juga. Inilah mengapa aing merasa beruntung bertemu dengan Ismail, karena ya tentu saja posisinya sebagai Militer membuatnya boleh membawa saya ke setiap sudut bangunan dengan tanpa hambatan. Oh ya, karena dia kenal sama penjaganya, saya diizinkan buat berfoto dengan salah satu penjaga. Ga sembarangan lho, ga setiap orang punya priviledge seperti aing, huhuhu…

Azhar and Guardian of Anitkabir
 Berfoto (sok) sangar dengan Tentara Penjaga huhuhu...

Beruntungnya lagi, ada upacara penghormatan yang dilaksanakan oleh militer Korea. Menurut Ismail, adalah hal biasa jika Militer Suatu Negara mengunjungi Turki mereka akan memberikan upacara penghormatan di Anitkabir. Jadilah kami pun menonton acara tersebut plus upacara pergantian penjaga.

Suatu momen yang sangat rugi jika terlewat.

Beneran lucky mujur, kan? huhuhu….

Kelar di anitkabir, ismail mengajak aing makan di sebuah resto tradisional Turki yang bikin aing melongo. Porsi makannya,, bisa buat 10 orang kali kalo di indonesia. Dan, di akhir sesi pun masih dikasi desert bernama Kunefe yang subhanallah manisnya dan besar banget potongannya. Kelar makan, Ismail mengantar aing ke stasiun bus. Kami tiba di stasiun bus 20 menit sebelum bus berangkat dan mendapatkan tiket terakhir untuk hari itu. Ismail menemani aing sampai bus benar-benar berangkat.

Aah,, benar-benar salut dengan hospitality Orang Turki. Aing yang awalnya tidak niat ke Ankara malah menemukan dua orang baik. Jadi pengen stay di Ankara deh.. Tapi, apa daya, masih banyak wilayah Turki lain yang harus aing lihat. Betul?

Nevsehir

Tengah malam, aing tiba di Nevsehir dan dijemput host aing. Pak Ali Riza namanya. Beliau ini istimewa karena adalah seorang pensiunan yang suka bertemu orang baru. Dia fasih berbahasa Inggris, Perancis, Spanyol, Arab dan paham sedikit bahasa Belanda. Yap, dia dulu pernah bekerja di Belgia dan Perancis selama 10 tahun.

Paginya, kami mulai jalan. Pak Ali juga berinisiatif mengajak Couchsurfer lain dari Indonesia, ada Mba Ninik dan Mba Ayu, 2 orang dokter gigi yang langsung bisa akrab karena sesama banci poto. Hahaha… Kami berkeliling daerah Nevsehir, Goreme, dan sekitarnya, termasuk yang tidak turistik. Siangnya, kami diperkenalkan dengan teman-teman rekan kerja di sekolah sebelum beliau pensiun. Kami disambut hangat, termasuk oleh murid-murid yabg tidak henti hentinya minta difoto. Setelah menghabiskan segelas cay, kami lanjut perjalanan.

Me and Friends in Goreme_2019
Kiri-Kanan: Mba Ayu, Pak Ali Riza, Aing, Dua turis Chinese, dan Mba Ninik

Kami mengunjungi Derinkuyu Underground City dan asli bikin ga nyaman. Kami takjub dengan masyarakat kuno yang mempunyai teknologi secanggih itu dan tidak punah walaupun hidup di dalam tanah.

Malamnya, kami diundang oleh salah seorang sahabat untuk makan malam. Meskipun bahasa Inggrisnya payah, tapi sangat ramah. Jadilah Pak Ali sebagai translator. And again, makanan buat kami ber-7 (kami ber-4 plus si bapak dan 2 anaknya) kalau di Indonesia mungkin bisa buat hajatan kecil. Mereka tertawa di saat kami, satu persatu menyerah karena tidak mampu menghabiskan jatah kami. Setelah itu shalat, dan jengjengjeng. Kami diundang ikut pengajian. Kami membaca kitab dan diterangkan maknanya. Kami bertiga pandang-pandangan sekaligus merasa terharu. Kita beneran dianggap lokal.

Makan Bersama_Nevsehir_2019
Makan bersama dengan menu untuk hajatan, hohoho

Besoknya, kami melanjutkan perjalanan ke Zelve. Mirip-miriplah dengan bebatuan alien dan fairy chimney di tempat sebelumnya, tapi yang ini gratis. Setelah puas, kami melanjutkan ke Ihlara valley. Indah dan sepi turis. Jadi, kami bebas poto poto tanpa gangguan. Yang lucunya, saat shalat kok tidak ada tempat wudunya, kami malah disuruh wudhu di sungai depan Masjid, hahaha. Sungguh, sudahlah suhu di bawah 10 derajat celsius, air itu rasanya udah beneran kaya es batu.

Ihlara Valley_Azhar_2019
Ihlara Valley yang Asri dan Tenang

Setelah itu, kami pulang. Mba Ayu dan Mba Ninik lanjut ke Pamukkale dan aing besoknya lanjut ke Konya.

Unique experience di Ankara dan Nevsehir :

1. Di Turki, Mescit (Masjid) adalah Mushala dan Camii adalah Masjid kalau di indonesia. Jadi jangan kaget kalau Masjid kecil-kecil disana. Hahaha

2. Orang Ankara lebih ramah dan santai dibanding orang Istanbul. Anehnya juga, Ankara justru lebih murah dibanding Trabzon.

3. Budaya lelaki gandeng tangan di Ankara itu lazim. Jangan kagok dan anggap mereka gay kalo mereka gandeng tangan kita

4. Cuaca di Nevsehir diukur tiap jam saking labilnya. Mba Ayu dan Mba Ninik gagal naik balon setelah nunggu 2 hari, dan aing gagal juga naik balon setelah nunggu 3 hari. Padahal hari cerah-cerah aja kelihatannya. Balon baru terbang pas tanggal 17 april, eh tanggal 19 april malah turun salju. Jadi, kalo mau naik balon dan probabilitas terbangnya tinggi, datanglah saat Summer

5. Jangan lupa makan pottery kebab saat di Cappadocia. Rasanya enak dan cocok bagi lidah indonesia

Salam Mujur :D

 

Tidak ada komentar

Lucky Mujur (c) 2020. Diberdayakan oleh Blogger.